Kapal Selam Nuklir Inggris Masuk Laut Arab, Ketegangan AS-Iran Kian Meningkat
Kapal selam bertenaga nuklir milik Angkatan Laut Inggris, HMS Anson, dilaporkan tiba di Laut Arab pada Sabtu (21/3), menambah eskalasi ketegangan menjelang berakhirnya ultimatum Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Iran.
Menurut laporan media Inggris, kapal selam kelas Astute tersebut dikerahkan ke kawasan Timur Tengah setelah berangkat dari Perth pada awal Maret. Kehadirannya dinilai strategis karena menempatkan Inggris dalam posisi siap serang terhadap target di Iran.
Langkah ini muncul setelah pemerintah Inggris di bawah Perdana Menteri Keir Starmer disebut menyetujui penggunaan fasilitas militer oleh AS untuk operasi yang berkaitan dengan ketegangan di Selat Hormuz.
Meski demikian, Kementerian Pertahanan Inggris belum memberikan komentar resmi terkait pengerahan tersebut.
HMS Anson diketahui dilengkapi rudal jelajah Tomahawk Block IV dengan jangkauan sekitar 1.600 kilometer serta torpedo berat Spearfish. Dengan kemampuan ini, kapal selam tersebut dapat melancarkan serangan jarak jauh ke berbagai target strategis.
Penempatan HMS Anson di Laut Arab memperkuat posisi militer Inggris di kawasan dan memungkinkan respons cepat jika konflik semakin meluas. Dalam skenario tertentu, kapal ini dapat meluncurkan rudal setelah menerima perintah dari otoritas militer dan persetujuan pemerintah.
Konflik antara AS, Israel, dan Iran yang berlangsung sejak akhir Februari telah meluas ke berbagai titik di Timur Tengah. Serangan Iran dilaporkan menyasar kapal tanker di Selat Hormuz serta pangkalan militer sekutu Barat.
Salah satu dampaknya, pangkalan Inggris di Siprus sempat menjadi sasaran serangan pada awal Maret.
Sumber pertahanan Inggris menyebut bahwa kapal selam tersebut dapat beroperasi secara tersembunyi di kawasan selama berminggu-minggu, meski memiliki keterbatasan logistik sekitar tiga bulan untuk awaknya.
Di tengah situasi ini, Trump kembali menegaskan ancaman terhadap Iran, termasuk kemungkinan serangan ke infrastruktur energi jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz sesuai tenggat waktu.
Sebagai respons, pihak militer Iran menyatakan siap menargetkan infrastruktur energi dan fasilitas penting milik AS serta sekutunya di kawasan.
Dengan meningkatnya kehadiran militer dan retorika keras dari berbagai pihak, situasi di Timur Tengah berpotensi memasuki fase konflik yang lebih luas.
