Venezuela Pascapenggulingan Maduro: Ketidakpastian, Harapan, dan Kontinuitas Kekuasaan
Dunia, terutama warga Venezuela, masih mencoba memahami peristiwa dramatis yang terjadi di Caracas lebih dari sepekan lalu. Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap dalam operasi dini hari oleh pasukan khusus Amerika Serikat dan kini ditahan di New York, menghadapi dakwaan terkait narkotika dan senjata yang mereka bantah.
Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington kini “mengelola” Venezuela, sementara wakil presiden Delcy Rodríguez dilantik sebagai presiden sementara. Namun, bagi banyak warga Venezuela, perubahan yang diharapkan belum sepenuhnya terlihat.
Tidak Ada Pergantian Rezim yang Nyata
Meski Maduro telah digulingkan, struktur kekuasaan di Venezuela sebagian besar tetap utuh. Rodríguez, tokoh lama dalam gerakan Chavismo, mengambil alih jabatan presiden sementara. Sejumlah pejabat kunci era Maduro, termasuk Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello dan Menteri Pertahanan Vladimir Padrino, masih menjalankan perannya.
Dalam pidato nasional, Rodríguez menegaskan bahwa Venezuela tetap diperintah oleh rakyatnya sendiri, bukan oleh kekuatan asing. Pernyataan ini muncul di tengah tudingan bahwa Amerika Serikat kini memiliki pengaruh langsung atas pemerintahan negara kaya minyak tersebut.
Gerakan Chavismo, yang berakar sejak Hugo Chávez berkuasa pada 1999, dikenal dengan nasionalisasi industri minyak, pelemahan sistem checks and balances, serta penindasan terhadap oposisi. Meski demikian, Washington menyebut Rodríguez sebagai figur yang lebih pragmatis dan dapat diajak bekerja sama.
Oposisi Menuntut Pemilu Baru
Kelompok oposisi belum memperoleh peran signifikan dalam transisi ini. Salah satu tokoh sentral oposisi, María Corina Machado—peraih Nobel Perdamaian 2025—menyerukan pemilihan umum yang bebas dan adil.
Machado, yang berbicara dari lokasi rahasia, menyatakan siap kembali ke Venezuela dan menuding Rodríguez sebagai bagian dari sistem represif lama. Ia menegaskan bahwa oposisi telah memenangkan pemilu 2024, meski hasil resmi menyatakan Maduro sebagai pemenang.
Analisis independen dan pemantau internasional sebelumnya mendukung klaim oposisi bahwa hasil pemilu tersebut tidak kredibel. Sejumlah negara, termasuk AS dan Spanyol, telah mengakui kandidat oposisi Edmundo González sebagai presiden terpilih. González kini hidup di pengasingan di Spanyol.
Presiden Trump, meski memuji Machado, menyatakan keraguan atas kemampuannya memimpin Venezuela dan menyebut ia tidak memiliki dukungan domestik yang kuat. Namun, Trump dijadwalkan bertemu Machado di Washington dalam waktu dekat.
Pembebasan Tahanan Politik, Isyarat Awal Perdamaian
Pemerintah sementara Venezuela mulai membebaskan sejumlah tahanan politik, sebuah langkah yang dipandang simbolis namun penting. Beberapa tokoh oposisi dan warga negara asing telah dibebaskan, memicu harapan di tengah masyarakat.
Meski begitu, LSM Foro Penal mencatat lebih dari 800 tahanan politik masih dipenjara. Kelompok HAM menilai pembebasan tersebut baru mencakup sebagian kecil dari total tahanan dan belum mencerminkan perubahan kebijakan yang menyeluruh.
Pada saat yang sama, pemerintah mengeluarkan dekrit yang memberi kewenangan luas kepada aparat keamanan untuk menindak pihak-pihak yang dituding mendukung “serangan AS,” memicu kekhawatiran akan represi lanjutan. Puluhan jurnalis sempat ditangkap sebelum akhirnya dibebaskan.
Antara Kelegaan dan Ketidakpastian
Bagi banyak warga Venezuela, penahanan Maduro membawa rasa lega setelah bertahun-tahun hidup di bawah pemerintahan otoriter dan krisis ekonomi berkepanjangan. Namun, masa depan negara itu masih diselimuti ketidakpastian.
Dengan elite lama masih berkuasa, oposisi yang belum sepenuhnya dilibatkan, serta campur tangan geopolitik yang semakin nyata, Venezuela kini berada di persimpangan sejarah—antara peluang perubahan dan risiko kembali ke pola lama.
