Iran Alami Pemadaman Internet Nasional di Tengah Gelombang Protes Anti-Pemerintah
Iran mengalami pemadaman internet nasional pada Kamis malam seiring meluasnya protes anti-pemerintah di berbagai wilayah. Aksi unjuk rasa yang telah berlangsung hampir dua pekan itu dipicu kemarahan publik terhadap krisis ekonomi, inflasi tinggi, serta tindakan represif aparat keamanan.
Pemerintah memutus akses internet dan jaringan telepon tak lama setelah protes pecah di Teheran dan sejumlah kota besar lainnya. Meski demikian, pemadaman tersebut tidak sepenuhnya menghentikan penyebaran video dan informasi terkait aksi demonstrasi.
Direktur lembaga pemantau internet NetBlocks, Alp Toker, mengatakan pemadaman nasional merupakan taktik yang kerap digunakan pemerintah Iran ketika aparat keamanan bersiap menggunakan kekuatan mematikan.
“Tujuannya untuk mencegah informasi keluar dan membatasi pengawasan internasional,” ujarnya kepada CNN.
Protes tercatat terjadi di lebih dari 100 kota, mulai dari Ilam di wilayah barat yang berbatasan dengan Irak hingga Mashhad di timur laut dekat perbatasan Afghanistan. Demonstran meneriakkan slogan-slogan yang secara terbuka menentang rezim teokratis Iran.
Menurut LSM Iran Human Rights NGO (IHRNGO) yang berbasis di Norwegia, sedikitnya 45 orang tewas, termasuk delapan anak-anak, sejak demonstrasi dimulai. Ratusan lainnya dilaporkan terluka dan lebih dari 2.000 orang ditangkap. Angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Sebagian demonstran juga merespons seruan Putra Mahkota Reza Pahlavi yang berada di pengasingan untuk turun ke jalan. Dalam sejumlah video yang diverifikasi CNN, terdengar seruan, “Ini adalah pertempuran terakhir, Pahlavi akan kembali.” Pahlavi sendiri menyerukan warga Iran untuk bersatu dan menyuarakan tuntutan mereka.
Rekaman yang beredar menunjukkan massa memblokir jalan, membakar ban, dan merusak fasilitas umum di sejumlah kota. Media pemerintah Iran mengakui adanya kerusuhan di Teheran dan kota lain, serta melaporkan korban luka, korban tewas, dan kerusakan properti.
Situasi tersebut memicu reaksi dari luar negeri. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengancam akan menyerang Iran jika aparat keamanan membunuh para pengunjuk rasa.
“Jika mereka mulai membunuh orang, kami akan menyerang mereka dengan sangat keras,” kata Trump dalam wawancara radio.
Aksi protes yang awalnya muncul di pasar dan kampus-kampus Teheran kini berubah menjadi demonstrasi massal. Kekerasan pecah setelah pemerintah mengerahkan pasukan keamanan untuk membubarkan massa.
Krisis ekonomi menjadi pemicu utama. Inflasi yang merajalela, nilai mata uang yang terus anjlok, serta melonjaknya harga kebutuhan pokok membuat kehidupan jutaan warga semakin sulit. Seorang warga Teheran berusia 30 tahun mengatakan harga barang terus naik hampir setiap jam.
“Orang-orang benar-benar tidak mampu membeli apa pun. Semua orang merasa cemas,” katanya.
Aktivis dan jurnalis Iran Masih Alinejad menilai protes kali ini telah melampaui tuntutan ekonomi.
“Rakyat mengatakan rezim ini tidak bisa lagi direformasi. Mereka menginginkan berakhirnya Republik Islam,” ujarnya.
Awal Mula Protes
Protes bermula dari aksi pedagang di Grand Bazaar Teheran yang menentang kebijakan ekonomi pemerintah. Situasi memburuk setelah bank sentral menghentikan program dolar bersubsidi bagi importir, memicu lonjakan harga bahan pokok seperti minyak goreng dan ayam.
Banyak pedagang kemudian menutup toko mereka, sebuah langkah yang jarang terjadi mengingat kelompok ini secara historis merupakan pendukung Republik Islam. Pemerintah merespons dengan menawarkan bantuan tunai sekitar US$7 per bulan, namun mengakui langkah itu tidak cukup mengatasi krisis.
Titik Panas dan Eskalasi
Provinsi Ilam dan Lorestan menjadi pusat kerusuhan, dengan demonstran meneriakkan slogan “Matilah Khamenei,” secara langsung menantang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Video yang diverifikasi CNN juga menunjukkan aksi besar di Mazandaran, Golestan, Mashhad, Tabriz, dan kota-kota lainnya.
LSM hak asasi manusia menyebut aparat negara menggunakan peluru tajam dan melakukan penangkapan massal. Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan 950 polisi dan 60 anggota Basij terluka, serta sedikitnya lima personel keamanan tewas.
Protes Terbesar Sejak 2022
Aksi kali ini disebut sebagai yang terbesar sejak protes 2022 akibat kematian Mahsa Amini. Perbedaannya, protes saat ini dipicu dan digerakkan oleh pedagang pasar—kelompok berpengaruh yang historically menjadi pilar kekuasaan Republik Islam.
Para analis menilai, meski protes kemungkinan belum akan menggulingkan rezim karena tidak adanya alternatif politik yang jelas, gelombang demonstrasi ini mencerminkan krisis legitimasi dan kepercayaan publik yang mendalam.
“Tidak ada pemimpin politik Iran yang memiliki cetak biru untuk membawa negara keluar dari krisis,” kata profesor Universitas New York Arang Keshavarzian. “Satu-satunya alat yang tersisa bagi rezim adalah paksaan dan kekerasan.”
