Stok Rudal Iran Jadi Ancaman Berkelanjutan, Upaya AS-Israel Akhiri Perang Tersendat
Serangan rudal Iran yang terus berlangsung ke negara-negara Teluk sekutu Amerika Serikat menjadi tantangan serius bagi Amerika Serikat dan Israel, terutama karena turut menyasar fasilitas energi strategis di kawasan tersebut.
Situasi ini menyulitkan Presiden Donald Trump yang sebelumnya ingin segera mengakhiri konflik setelah hampir tiga pekan sejak dimulainya serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu.
Namun, besarnya cadangan persenjataan milik Iran dinilai menjadi hambatan utama. Sebelum konflik berlangsung, Iran disebut memiliki salah satu stok rudal balistik terbesar di Timur Tengah, dengan jangkauan hingga 2.000 kilometer dan kecepatan mencapai 17.000 kilometer per jam.
Beberapa rudal tersebut bahkan dilengkapi hulu ledak cluster yang membuatnya lebih sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara. Meski jumlah pastinya tidak diketahui, persediaan rudal Iran diperkirakan berkisar antara 2.500 hingga 6.000 unit.
Selain itu, Iran juga memiliki jaringan fasilitas peluncuran bawah tanah yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk di sekitar Teheran, yang memperkuat daya tahan militernya.
Di sektor lain, Iran dikenal sebagai produsen drone dalam skala besar, dengan kapasitas produksi mencapai sekitar 10.000 unit per bulan. Drone jenis Shahed buatan Iran bahkan telah digunakan dalam berbagai konflik internasional, termasuk di Ukraina.
Meski Trump mengklaim kemampuan rudal Iran telah melemah secara signifikan, sejumlah pejabat militer AS menilai Teheran masih memiliki kapasitas serangan yang cukup besar.
Sementara itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut kemampuan militer Iran telah menurun setelah ratusan peluncur dan fasilitas produksinya dihancurkan. Namun, pihak Iran membantah klaim tersebut dan menegaskan produksi serta stok rudal mereka masih tetap berjalan.
Di lapangan, intensitas serangan Iran memang dilaporkan menurun, tetapi serangan rudal dan drone tetap berlangsung, terutama yang menyasar fasilitas energi di kawasan Teluk.
Para analis menilai ancaman masih tinggi, karena setiap serangan berpotensi mengganggu pasokan energi global serta rantai logistik internasional, meskipun frekuensinya tidak setinggi sebelumnya.
