Siklus Protes Iran Kembali Berulang, Rezim Hadapi Tantangan di Era Baru
Protes. Penindakan. Lalu sunyi sementara. Pola ini kembali terulang dan semakin akrab bagi masyarakat Iran, seiring gelombang demonstrasi terbaru yang dipicu oleh kekecewaan politik dan tekanan ekonomi berkepanjangan.
Dalam beberapa tahun terakhir, warga Iran berulang kali turun ke jalan menuntut perubahan. Ketidakpuasan terhadap sistem politik yang dinilai enggan melakukan reformasi, diperparah oleh stagnasi ekonomi akibat salah urus kronis, korupsi yang mengakar, serta sanksi internasional yang melumpuhkan, terus memicu kemarahan publik.
Seperti sebelumnya, protes-protes ini kerap berlangsung beberapa hari. Pada momen tertentu—seperti demonstrasi besar tahun 2022 usai kematian Mahsa Amini dalam tahanan polisi moral—gelombang kemarahan itu bahkan membawa perubahan sosial yang mendalam. Namun, polanya tetap sama: aksi massa dibalas penindakan keras, demonstran dipukul mundur, dan ketegangan mereda sementara hingga konfrontasi berikutnya.
Pada Jumat, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menanggapi kerusuhan terbaru dengan mengakui adanya tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Meski demikian, ia kembali menarik garis tegas antara apa yang disebutnya sebagai “protes sah” dan tindakan “kerusuhan” yang dilakukan oleh pihak-pihak yang ia sebut sebagai tentara bayaran, seraya memperingatkan akan adanya respons tegas dari negara.
Namun, pendekatan lama tersebut dinilai semakin sulit meredam dinamika baru yang berkembang.
Gelombang protes kali ini merupakan yang pertama sejak perang singkat selama 12 hari antara Iran dan Israel pada musim panas lalu, konflik yang kemudian menyeret Amerika Serikat dan menyebabkan kerusakan signifikan pada fasilitas nuklir Iran. Perang tersebut dinilai melemahkan daya gentar Iran dan membuka kerentanan rezim.
Pasca-konflik, sebagian warga berharap muncul perubahan arah kebijakan dan kontrak sosial baru antara pemerintah dan rakyat. Harapan itu pupus. Negara kembali ke pola lama, represi diperketat, dan jurang kepercayaan antara rakyat dan penguasa semakin melebar.
Di tengah situasi tersebut, muncul kembali figur oposisi lama dengan daya tarik baru: Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada Revolusi 1979. Meski sebelumnya kerap muncul dalam diskursus politik, dukungan terhadap Pahlavi kini terdengar lebih lantang, baik di media sosial maupun di jalan-jalan. Sejumlah tokoh di luar negeri juga berupaya mempromosikannya sebagai alternatif kepemimpinan Iran.
Pada Kamis, demonstran di Teheran dan kota-kota lain meneriakkan slogan seperti, “Ini pertempuran terakhir, Pahlavi akan kembali,” dan “Hidup Shah!”, menandai pergeseran tuntutan dari sekadar ekonomi menuju tantangan langsung terhadap legitimasi rezim.
Reza Pahlavi sendiri menyerukan masyarakat untuk terus turun ke jalan dan, pada Jumat, menyampaikan apresiasi atas keberanian para demonstran serta meminta mereka menjaga momentum.
Meski demikian, sejauh mana pengaruh Pahlavi dapat bertahan masih menjadi tanda tanya. Skala demonstrasi kali ini belum menyamai protes 2022 maupun Gerakan Hijau 2009. Namun, munculnya seruan terbuka untuk mengembalikan monarki dan menggulingkan pemerintahan saat ini menandakan perubahan penting dalam arah perlawanan publik.
Faktor eksternal juga turut memengaruhi dinamika. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Iran agar tidak melakukan represi berdarah terhadap demonstran—peringatan yang dianggap Teheran sebagai campur tangan asing. Namun, sikap Trump yang dikenal tidak konvensional dalam kebijakan luar negeri membuat para pemimpin Iran waspada terhadap potensi respons Washington jika penindakan brutal kembali dilakukan.
Bagi jutaan warga Iran, baik di dalam maupun luar negeri, situasi ini menjadi babak lain dari sejarah panjang pergolakan nasional. Wajah-wajah lama masih mendominasi kekuasaan, tetapi dengan lanskap geopolitik yang berubah, arah akhir dari krisis kali ini kian sulit diprediksi.
