Aktivis Pro-Palestina di Inggris Jalani Mogok Makan Berbulan-bulan, Kondisi Kesehatan Memburuk
Heba Muraisi menyadari betul dampak mogok makan yang dijalaninya terhadap tubuhnya. “Organ-organ saya perlahan berhenti berfungsi,” ujar aktivis pro-Palestina berusia 31 tahun itu dari Penjara HMP New Hall, Inggris utara, Senin malam.
Muraisi telah menjalani mogok makan selama 73 hari sebagai bagian dari aksi protes terkoordinasi yang disebut sebagai salah satu mogok makan terpanjang di Inggris dalam beberapa dekade terakhir. Karena keterbatasan akses komunikasi, pernyataannya disampaikan kepada CNN melalui kelompok kampanye Prisoners for Palestine.
Bersama Kamran Ahmed (28), yang telah berpuasa selama 66 hari, Muraisi memulai mogok makan pada akhir 2024. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap penahanan pra-persidangan yang berkepanjangan serta apa yang mereka anggap sebagai pembungkaman perbedaan pendapat politik terkait perang di Gaza.
Keduanya merupakan bagian dari kelompok aktivis yang dikenal sebagai “Filton 24”, yang ditangkap pada November 2024. Mereka dituduh terlibat dalam pembobolan dan perusakan fasilitas penelitian dan pengembangan milik Elbit Systems, produsen senjata terbesar Israel, di dekat Filton, Inggris barat. Jaksa penuntut memperkirakan kerugian akibat insiden itu mencapai sekitar £1 juta.
Muraisi dan Ahmed didakwa atas tuduhan pencurian, perusakan kriminal, dan konspirasi, namun membantah seluruh dakwaan tersebut. Meski tidak dijerat dengan undang-undang terorisme, mereka sempat ditahan dan diinterogasi menggunakan kewenangan kontra-terorisme, sebuah langkah yang menuai kritik dari kelompok hak asasi manusia.
Pemerintah Inggris kemudian melarang Palestine Action dan menetapkannya sebagai organisasi teroris. Kebijakan ini memicu perdebatan luas mengenai kebebasan berekspresi dan hak untuk melakukan protes. Pemerintah menyatakan larangan tersebut diperlukan demi menjaga keamanan nasional, sementara organisasi hak asasi manusia menilai langkah itu berlebihan dan berpotensi membungkam kritik politik.
Para aktivis mogok makan menuntut pembebasan dengan jaminan, pencabutan larangan terhadap Palestine Action, diakhirinya pembatasan komunikasi di penjara, serta jaminan pengadilan yang adil. Mereka juga mempersoalkan penahanan pra-persidangan yang melampaui batas enam bulan sebagaimana pedoman Layanan Penuntut Umum Kerajaan Inggris dan Wales. Sidang mereka baru dijadwalkan berlangsung pada Juni 2026.
Kondisi kesehatan para pemogok makan dilaporkan memburuk. Muraisi mengalami nyeri dada, kejang otot, dan penurunan berat badan drastis hingga sekitar 49 kilogram. Dokter memperingatkan adanya risiko kolaps kardiovaskular. Sementara itu, Ahmed dilaporkan mengalami penyusutan otot jantung dan gangguan pendengaran yang diduga berkaitan dengan kerusakan saraf.
Kementerian Kehakiman Inggris menyatakan para tahanan tetap mendapatkan perawatan kesehatan sesuai prosedur dan akan menjalani proses hukum yang adil. Pemerintah menegaskan tidak dapat mencampuri proses hukum yang sedang berjalan, termasuk memenuhi tuntutan pembebasan segera.
Sejumlah organisasi hak asasi manusia internasional, seperti Amnesty International dan Human Rights Watch, menyatakan keprihatinan mendalam terhadap kondisi para aktivis tersebut. Lebih dari 50 anggota parlemen Inggris juga mendesak pemerintah untuk membuka dialog sebagai langkah kemanusiaan, meski hingga kini belum mendapat respons resmi.
