Rusia Lancarkan Serangan Terbesar Tahun Ini, Ukraina Beku di Tengah Padam Listrik dan Retaknya Jeda Diplomasi
Rusia melancarkan serangan rudal dan drone terbesar terhadap Ukraina sepanjang tahun ini pada Selasa (3/2), memutus aliran listrik dan pemanas bagi puluhan ribu warga saat negara itu menghadapi suhu musim dingin ekstrem. Serangan ini sekaligus mengakhiri penangguhan sementara serangan terhadap infrastruktur energi yang sebelumnya disepakati Moskow dan Washington.
Staf CNN di Kyiv melaporkan terdengarnya sejumlah ledakan keras di ibu kota. Otoritas setempat juga melaporkan serangan di Dnipro, Kharkiv, Sumy, Zaporizhzhia, dan Odesa, dengan sasaran utama fasilitas energi dan kawasan permukiman.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan Kyiv kini menunggu reaksi Amerika Serikat atas gelombang serangan terbaru tersebut.
“Kami mengharapkan Amerika Serikat menanggapi serangan Rusia. Penangguhan serangan terhadap fasilitas energi adalah usulan Amerika selama periode diplomasi dan cuaca musim dingin,” kata Zelensky dalam pidato malamnya.
Pekan lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyetujui jeda sementara serangan terhadap kota-kota besar dan infrastruktur energi Ukraina hingga Minggu, menyusul permintaan pribadi Presiden AS Donald Trump, menurut Kremlin. Namun, jeda tersebut kini runtuh.
Trump menyatakan ia tidak terkejut dengan serangan terbaru Rusia. Meski menginginkan perpanjangan jeda dan berakhirnya perang, Trump mengatakan Putin menepati janjinya dengan tidak menyerang kota-kota Ukraina selama satu minggu penuh.
“Jeda itu berlangsung dari Minggu ke Minggu, lalu terjadi serangan besar tadi malam,” ujar Trump di Ruang Oval.
Gedung Putih memastikan bahwa negosiasi Rusia–Ukraina yang dimediasi AS akan dilanjutkan akhir pekan ini di Abu Dhabi, menyusul pembicaraan trilateral sebelumnya—yang merupakan dialog langsung pertama sejak invasi Rusia pada Februari 2022.
Zelensky mengungkapkan bahwa serangan terbaru Rusia menargetkan fasilitas energi di sedikitnya enam wilayah, melibatkan sekitar 70 rudal dan 450 drone serang. Berdasarkan perhitungan CNN, ini menjadi serangan terbesar Rusia terhadap Ukraina pada 2026 sejauh ini.
“Bagi Rusia, meneror warga di hari-hari terdingin musim dingin lebih penting daripada beralih ke diplomasi,” kata Zelensky. Ia menuding Moskow memanfaatkan jeda serangan untuk menimbun senjata dan menunggu suhu turun hingga di bawah -20 derajat Celsius.
Di Kyiv, hampir 1.200 gedung apartemen bertingkat di dua distrik kehilangan pemanas, menurut Wali Kota Vitaliy Klitschko. Serangan juga merusak gedung apartemen dan sebuah taman kanak-kanak, melukai enam orang, kata kepala administrasi militer Kyiv, Tymur Tkachenko.
“Semuanya dilakukan dengan sengaja untuk membuat orang-orang menyerah,” ujar Tetyana, seorang warga Kyiv, kepada CNN. “Saya tak pernah membayangkan bangunan tempat tinggal bisa dihantam saat cuaca sedingin ini.”
Rekaman Layanan Darurat Negara menunjukkan api membubung dari gedung apartemen bertingkat dan petugas penyelamat bekerja sepanjang malam di tengah suhu ekstrem.
Di Odesa, lebih dari 50.000 orang kehilangan listrik. Sementara di Kharkiv, serangan rudal dan drone merusak infrastruktur energi kota, menyebabkan sedikitnya 820 gedung bertingkat tanpa pemanas, kata Wali Kota Ihor Terekhov. Dnipro juga diserang rudal balistik, menurut Angkatan Udara Ukraina.
“Tujuannya jelas: menyebabkan kerusakan maksimal dan membuat kota tanpa pemanas di tengah dingin ekstrem,” tegas Terekhov.
Warga Kyiv menghabiskan hingga tujuh jam dalam status siaga serangan udara. Pada Selasa pagi, suhu di Kyiv tercatat -20°C, sementara di Kharkiv mencapai -25°C. Banyak warga terlihat berlindung di stasiun metro, mengenakan mantel tebal dan meringkuk di bawah selimut.
Serangan juga menimbulkan korban jiwa di luar sektor energi. Di Zaporizhzhia, serangan drone merusak bangunan, kendaraan, dan toko, menewaskan dua remaja serta melukai delapan orang, menurut kepala administrasi militer wilayah tersebut, Ivan Fedorov.
“Peringatan serangan udara di Zaporizhzhia telah berlangsung 23 jam berturut-turut,” tulis Fedorov di Telegram.
Duta Besar Uni Eropa untuk Ukraina, Katarina Mathernova, menyebut serangan tersebut sebagai strategi perang yang disengaja.
“Ini bukan efek samping perang. Ini strategi Rusia. Musim dingin dijadikan senjata, panas dan listrik dijadikan target,” tulisnya.
Sementara itu, perusahaan energi swasta terbesar Ukraina, DTEK, menyatakan serangan Selasa pagi menghantam pembangkit listrik tenaga termal dan merusak infrastruktur penting “saat panas dan listrik paling dibutuhkan.”
CEO DTEK Maxim Timchenko mengatakan sistem energi Ukraina kini berada dalam “mode bertahan hidup,” dengan kondisi terburuk dalam sejarah modern negara itu. Dari lima pembangkit listrik termal yang dioperasikan DTEK, dua tidak berfungsi dan tiga lainnya beroperasi dengan kapasitas rendah.
Timchenko berharap pembicaraan di Abu Dhabi dapat memperpanjang gencatan senjata energi yang singkat, yang sebelumnya hanya memberi jeda beberapa hari dari serangan Rusia.
