Eyang Meri Tutup Usia, Pendamping Setia Jenderal Hoegeng yang Dikenang karena Kesederhanaan
Istri almarhum mantan Kapolri Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, Meriyati Hoegeng atau yang akrab disapa Eyang Meri, meninggal dunia pada Selasa (3/2). Ia mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan intensif di RS Bhayangkara Polri, Kramatjati, Jakarta Timur.
Usai wafat, jenazah Eyang Meri disemayamkan di rumah duka kawasan Pesona Khayangan, Kota Depok, Jawa Barat, untuk menerima penghormatan terakhir dari keluarga, kerabat, dan masyarakat.
Eyang Meri lahir pada 23 Juni 1925 sebagai putri pasangan Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe. Ia menikah dengan Hoegeng Iman Santoso pada 31 Oktober 1946 di Yogyakarta, membangun rumah tangga yang dikenal sederhana dan jauh dari kemewahan.
Dari pernikahan tersebut, pasangan ini dikaruniai tiga orang anak, yakni Sri Pamujining Rahayu, Reni Soerjanti, dan Aditya Soegeng Roeslani.
Pada perayaan ulang tahunnya yang ke-100 tahun lalu, Eyang Meri sempat menyampaikan rasa syukur atas perhatian yang ia terima, termasuk dari Kapolri dan jajaran Polri.
“Saya hanya bisa berdoa semoga semuanya dalam keadaan sehat, selamat, dan dalam lindungan Allah SWT,” ujar Eyang Meri saat itu, Senin (23/6/2025).
Nama Eyang Meri tak terpisahkan dari sosok suaminya, Jenderal Hoegeng Iman Santoso, Kapolri kelima Republik Indonesia yang menjabat pada periode 1968–1971. Hoegeng dikenal luas sebagai simbol integritas, kejujuran, dan ketegasan dalam memberantas korupsi serta gratifikasi di tubuh kepolisian.
Sebelum menjadi Kapolri, Hoegeng juga pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pada 1965 dan Menteri Sekretaris Kabinet Inti pada 1966 di era Presiden Sukarno.
Hingga wafatnya pada 14 Juli 2004, nama Hoegeng tetap dikenang sebagai figur teladan yang hidup sederhana dan tak tergoyahkan oleh kekuasaan—nilai-nilai yang juga tercermin dalam kehidupan Eyang Meri.
Keteladanan Hoegeng bahkan diabadikan dalam candaan Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang legendaris:
“Polisi yang baik itu cuma tiga: Pak Hoegeng almarhum bekas Kapolri, patung polisi, dan polisi tidur.”
Kepergian Eyang Meri menutup satu bab penting dari kisah keluarga yang menjadi simbol kejujuran dan integritas dalam sejarah kepolisian Indonesia.
