Video yang Tembus Pemadaman Internet Ungkap Skala Represi Mematikan di Iran
Video-video yang berhasil keluar dari Iran meski negara itu dilanda pemadaman internet nasional memperlihatkan dampak mengerikan dari gelombang penindakan keras terhadap para pengunjuk rasa. Rekaman tersebut menunjukkan warga yang putus asa berusaha mengenali orang-orang terkasih mereka di antara puluhan jenazah yang tergeletak di dalam bangunan menyerupai gudang serta di area terbuka sekitar pusat forensik. Mereka menjadi korban dari represi terbaru pemerintah terhadap perbedaan pendapat.
Gelombang protes anti-pemerintah yang dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi telah mencengkeram Iran dan berkembang menjadi tantangan terbesar bagi rezim dalam beberapa tahun terakhir. Video yang diperoleh CNN memperlihatkan kerumunan warga berdiri di depan layar yang menampilkan foto-foto jenazah, sementara keluarga-keluarga dengan cemas mencoba mengidentifikasi kerabat mereka. Berdasarkan informasi yang terlihat di layar serta gambar yang diterima oleh Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat, diperkirakan sekitar 250 jenazah berada di fasilitas tersebut.
Rekaman lain dari fasilitas forensik menunjukkan kantong-kantong jenazah hitam berjajar di sepanjang jalan setapak di luar gedung, dikelilingi oleh warga yang berkumpul. Beberapa jenazah terlihat tergeletak di halaman fasilitas, sementara yang lain berada di tanah tidak beraspal hanya beberapa meter dari kendaraan yang terparkir. Keluarga-keluarga tampak panik menyusuri area tersebut untuk mencari orang-orang terkasih mereka.
Laporan-laporan ini mencerminkan upaya terkoordinasi pemerintah Iran untuk menyalahkan para demonstran atas kekerasan yang terjadi dan memperingatkan masyarakat agar tidak bergabung dalam aksi protes. Namun, mengingat sejarah panjang penindasan brutal oleh aparat keamanan Iran serta kesaksian yang terus bermunculan, kelompok-kelompok hak asasi manusia menilai bukti di lapangan jauh lebih kuat dibandingkan narasi resmi pemerintah.
Michael Page, wakil direktur divisi Timur Tengah dan Afrika Utara Human Rights Watch, menyatakan bahwa otoritas Iran bertanggung jawab atas kematian dan cedera yang dialami para peserta demonstrasi. Menurutnya, pihak berwenang tidak pernah benar-benar membedakan antara demonstran damai dan mereka yang dicap sebagai perusuh, karena setiap protes berskala besar dipandang sebagai ancaman langsung terhadap kekuasaan.
Pemerintah Iran sendiri memperingatkan warganya agar tidak bergabung dengan apa yang mereka sebut sebagai “perusuh dan teroris” serta “tentara bayaran” yang didukung asing. Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan adanya perbedaan antara demonstran damai dan kelompok yang bertujuan mengganggu stabilitas masyarakat. Jaksa Agung Iran pun berjanji akan menindak kelompok terakhir dengan tegas, termasuk melalui ancaman hukuman mati.
Pihak berwenang membela tindakan aparat keamanan. Menteri Dalam Negeri Eskandar Momeni mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa pasukan keamanan, hingga batas tertentu, telah menunjukkan pengekangan maksimal untuk mencegah jatuhnya korban di kalangan warga sipil.
Namun, kesaksian saksi mata dan laporan kelompok hak asasi manusia menggambarkan situasi yang berbeda. Dua saksi di Teheran mengatakan kepada CNN bahwa pasukan keamanan bersenjata senapan militer menewaskan banyak orang pada Jumat malam. Seorang pekerja sosial yang ikut dalam protes di ibu kota mengaku menyaksikan aparat menembaki demonstran dan menggunakan alat kejut listrik pada seorang gadis di bagian leher hingga ia pingsan. Menurut Page, represi keras ini dalam beberapa kasus justru mendorong sebagian orang untuk bertindak lebih ekstrem, meskipun penggunaan kekuatan mematikan oleh negara tidak dapat dibenarkan.
HRANA melaporkan lebih dari 500 demonstran, termasuk sembilan anak di bawah umur, tewas dan lebih dari 10.000 orang ditangkap sejak protes dimulai pada akhir Desember. Namun, akibat pemadaman internet dan terbatasnya arus informasi dari Iran, jumlah korban sebenarnya masih belum dapat dipastikan. CNN menyatakan tidak dapat memverifikasi secara independen angka-angka tersebut maupun klaim media pemerintah Iran yang menyebut lebih dari 100 anggota pasukan keamanan tewas.
Memasuki hari keenam pemadaman internet, potongan-potongan video terbatas seperti yang berasal dari Kahrizak memberikan gambaran kelam tentang dampak nyata perbedaan pendapat terhadap kehidupan manusia di Iran.
