hokipalace - Ralph Lauren Kembali ke Milan, Satukan Gaya Klasik dan Generasi Z di Peragaan Busana Pria 2026

Ralph Lauren Kembali ke Milan, Satukan Gaya Klasik dan Generasi Z di Peragaan Busana Pria 2026

Dengan kemeja rugby bergaris, jaket puffer oranye mencolok, serta topi baseball yang dikenakan terbalik, para model muda memadati jalanan Milan pada Jumat malam. Mereka menampilkan koleksi dari peragaan busana Ralph Lauren Musim Gugur–Musim Dingin 2026 dalam rangkaian Pekan Mode Pria, menghadirkan paduan jaket balap, beanie longgar, dan gaya kasual modern.

Digelar di Palazzo Ralph Lauren, sebuah rumah mewah bernuansa hangat di pusat kota, peragaan ini menjadi penampilan perdana Ralph Lauren di Milan dalam lebih dari 20 tahun. Koleksi yang ditampilkan berasal dari dua lini utama: Purple Label yang menonjolkan kualitas material dan tailoring premium, serta Polo yang lebih muda dengan sentuhan preppy dan sporty.

Lini Polo tampil pertama di catwalk, menandai kesadaran Ralph Lauren terhadap meningkatnya minat Generasi Z terhadap merek tersebut. Ketertarikan ini didorong oleh popularitas Ralph’s Coffee yang kini hadir di lebih dari 30 lokasi global, serta eksposur budaya pop—termasuk pilihan busana Taylor Swift saat mengumumkan pertunangannya pada 2025.

Menariknya, citra Ralph Lauren sebagai merek lintas generasi justru tidak menghalangi konsumen muda. Pada 2025, Ralph Lauren menempati posisi kedua setelah Gucci sebagai merek mewah paling diminati konsumen di bawah 35 tahun, menurut riset Kantar.

Di atas panggung, ragam gaya ditampilkan secara luas, mulai dari nuansa western, preppy Ivy League, hingga busana formal. Keragaman ini tercermin pula di barisan depan tamu, yang dihadiri figur lintas usia dan latar belakang, dari Noah Schnapp hingga Tony Leung, serta deretan selebritas seperti Colman Domingo, Nick Jonas, Liam Hemsworth, Mark Lee (NCT), Henry Golding, Morgan Spector, dan Tom Hiddleston.

Meski menghadirkan detail yang terasa muda—seperti syal atau sweater yang dijuntai di tas kain serta interpretasi baru motif dedaunan dan bebek—koleksi ini tidak terkesan mengejar tren sesaat. Sebaliknya, Ralph Lauren memanfaatkan momentum tersebut untuk membangun hubungan yang lebih erat dengan generasi baru, sembari memperlihatkan luasnya dunia gaya yang ditawarkan merek ini.

Sejak meluncurkan dasi pertamanya pada 1967 dan koleksi Polo pria pada 1968, Ralph Lauren telah berkembang menjadi kerajaan global dengan identitas kuat pada gaya Amerika klasik. Tanpa kehilangan prestise, merek ini berhasil mencatatkan pendapatan sebesar 7,1 miliar dolar AS pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2025, menjadikannya salah satu merek yang mampu bertahan di tengah perlambatan sektor mode mewah.

Kembalinya Ralph Lauren ke Milan juga menjadi simbol kepulangan, mengingat kota ini pertama kali menjadi tuan rumah koleksinya pada Januari 2002. Peragaan kali ini sekaligus menjadi pembuka menuju Olimpiade Musim Dingin 2026 di Milan dan Cortina, di mana Ralph Lauren kembali dipercaya sebagai penyedia busana Tim AS.

Filosofi tersebut dirangkum langsung oleh Ralph Lauren dalam catatan peragaan busananya, yang menekankan bahwa desainnya bukan sekadar soal pakaian, melainkan cara hidup, individualitas, dan gaya personal pria. Pesan itu mencapai puncaknya lewat kemunculan kejutan Tyson Beckford, supermodel legendaris era 1990-an, yang tampil dengan tuksedo dipadukan sepatu bot hiking dan mantel kasmir berbulu—sebuah pernyataan bahwa gaya Ralph Lauren melampaui waktu dan generasi.

Similar Posts