Rusia Tegaskan Pasukan Barat di Ukraina Jadi Target Sah
Rusia kembali menegaskan sikap lamanya dengan menyatakan bahwa kehadiran pasukan Barat di Ukraina akan dianggap sebagai “target yang sah”. Pernyataan tersebut disampaikan pada Kamis, beberapa hari setelah Prancis dan Inggris menyatakan kesiapan mengirim pasukan ke Ukraina jika kesepakatan damai tercapai.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengatakan bahwa pengerahan pasukan Barat di wilayah Ukraina akan diklasifikasikan sebagai bentuk intervensi asing.
“Kementerian Luar Negeri Rusia memperingatkan bahwa pengerahan unit militer, fasilitas militer, gudang, dan infrastruktur negara-negara Barat lainnya di wilayah Ukraina akan diklasifikasikan sebagai intervensi asing,” ujar Zakharova dalam pernyataannya.
Pernyataan itu menanggapi deklarasi niat yang ditandatangani Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Selasa lalu, dalam pertemuan terbaru Koalisi Sukarelawan. Dalam forum tersebut, kedua negara sepakat menyiapkan pengerahan pasukan multinasional guna menjamin keamanan Ukraina.
Rusia selama ini secara konsisten menentang kehadiran militer Barat di Ukraina. Zakharova menegaskan peringatan tersebut telah berulang kali disampaikan oleh Moskow di tingkat tertinggi dan tetap berlaku. Ia menyebut kesepakatan negara-negara sekutu Ukraina itu sebagai “deklarasi militeristik baru.”
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky terus mendesak negara-negara Barat agar memberikan jaminan keamanan yang kuat sebagai bagian dari kesepakatan damai, guna mencegah agresi Rusia di masa depan.
Bentuk jaminan keamanan yang bersedia ditawarkan Eropa dan Amerika Serikat mulai terbentuk setelah berbulan-bulan pertemuan. Starmer menyatakan kesepakatan yang dicapai pada Selasa lalu menetapkan kerangka hukum bagi Inggris dan Prancis untuk mengoperasikan pasukan mereka di Ukraina, setelah sebelumnya kedua negara menyatakan kesediaan mengerahkan pasukan.
Zelensky pada Kamis mengatakan bahwa kesepakatan mengenai jaminan keamanan kini “pada dasarnya siap untuk diselesaikan di tingkat tertinggi dengan Presiden Amerika Serikat,” setelah pembahasan lanjutan di Prancis sehari sebelumnya.
Namun, meski AS, Eropa, dan Ukraina berupaya mencapai kesepakatan, pernyataan Moskow menegaskan masih lebarnya jurang perbedaan antara Rusia dan blok Barat dalam proses negosiasi.
Di lapangan, Rusia justru meningkatkan intensitas serangan dalam beberapa pekan terakhir, terutama dengan menargetkan infrastruktur energi Ukraina. Serangan itu bertujuan memutus pasokan listrik saat musim dingin mencapai puncaknya.
Pemerintah di Kyiv pada Kamis mengimbau warga untuk menyiapkan persediaan air, baterai, dan pakaian hangat, mengantisipasi serangan lanjutan di tengah suhu ekstrem yang turun hingga minus 20 derajat Celcius.
“Kita hanya bisa mencapai kesepakatan damai jika Putin siap berkompromi,” kata Starmer pada Selasa. “Terlepas dari semua pernyataan Rusia, Putin belum menunjukkan kesiapan untuk perdamaian.”
