Pasukan Pro-Saudi Bergerak Kuasai Kota Strategis di Yaman Selatan, Saudi Tuduh UEA Bantu Pemimpin Separatis Kabur
Pasukan yang didukung Arab Saudi bergerak merebut kota strategis di selatan Yaman pada Kamis (waktu setempat), menyusul tuduhan Riyadh bahwa Uni Emirat Arab (UEA) membantu pemimpin separatis Yaman Selatan melarikan diri dari negara itu.
Koalisi pimpinan Saudi di Yaman, mengutip “intelijen yang dapat diandalkan”, menyatakan bahwa Aidarous al-Zubaidi, pemimpin Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC) yang didukung UEA, meninggalkan Yaman secara diam-diam menggunakan perahu pada tengah malam menuju Somaliland. Dari sana, ia disebut melanjutkan perjalanan dengan pesawat ke Mogadishu sebelum akhirnya tiba di bandara militer di Abu Dhabi.
CNN telah menghubungi Kementerian Luar Negeri UEA untuk meminta tanggapan terkait tuduhan tersebut.
Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri pemerintah Yaman yang diakui internasional dan didukung Saudi menyatakan bahwa Pasukan Perisai Nasional (National Shield Forces/NSF) telah “mengamankan” kota Aden dan menyebut situasi keamanan berada dalam kondisi terkendali. NSF juga membagikan video di media sosial yang memperlihatkan konvoi besar kendaraan militer yang bergerak untuk mengamankan sejumlah provinsi di selatan Yaman yang sebelumnya dikuasai STC dan milisi sekutunya. CNN belum dapat memverifikasi klaim tersebut secara independen.
Aden selama ini menjadi pusat pemerintahan Yaman sejak kelompok Houthi yang didukung Iran merebut ibu kota Sana’a pada 2014, yang kemudian memicu intervensi militer Arab Saudi dan UEA setahun setelahnya. Bulan lalu, pejabat pemerintah yang berbasis di Aden dilaporkan melarikan diri ke Riyadh setelah pasukan selatan pimpinan al-Zubaidi melancarkan ofensif untuk merebut wilayah tersebut.
Selama satu dekade terakhir, Arab Saudi dan UEA memiliki agenda berbeda di Yaman, sehingga mendukung faksi-faksi yang saling bersaing. Dukungan UEA terhadap separatis selatan kerap bertentangan dengan kepentingan Saudi yang menginginkan Yaman tetap bersatu dan stabil di wilayah perbatasannya. UEA menarik sebagian besar pasukannya dari Yaman pada 2019, meski masih mempertahankan kontingen kecil yang disebut sebagai pasukan antiterorisme.
Kemajuan pasukan STC di sejumlah provinsi penting di selatan Yaman pada awal Desember memicu kemarahan Riyadh dan menyebabkan ketegangan terbuka yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan UEA. Ketegangan itu memuncak dengan serangan udara Saudi terhadap pengiriman logistik UEA serta seruan pemerintah Yaman agar sisa pasukan UEA meninggalkan negara tersebut dalam waktu 24 jam.
Setelah penarikan UEA, pasukan pemerintah Yaman dengan dukungan serangan udara Saudi melancarkan serangan balasan yang memukul mundur separatis ke basis utama mereka di Aden. Di bawah tekanan militer, pimpinan STC akhirnya menyetujui perundingan di Riyadh untuk meredakan konflik.
Koalisi pimpinan Saudi menyatakan bahwa al-Zubaidi awalnya dijadwalkan mendampingi delegasi STC dalam perundingan tersebut, namun justru mengerahkan “pasukan militer dalam jumlah besar” yang dinilai bertujuan menciptakan kekacauan.
Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional kemudian menuduh al-Zubaidi melakukan “pengkhianatan tingkat tinggi” karena menghasut perpecahan internal.
Pejabat urusan luar negeri STC, Amr Al-Bidh, mengatakan bahwa delegasi STC yang berjumlah lebih dari 50 orang sempat tidak dapat dihubungi setelah tiba di Riyadh. Namun, foto yang diunggah duta besar Saudi untuk Yaman di media sosial pada Rabu menunjukkan pertemuannya dengan para pejabat tersebut.
“Pesan dari Arab Saudi jelas: datang dan patuhi, atau dianggap sebagai musuh. Ini adalah kesempatan terakhir,” ujar Al-Bidh.
