hokipalace - Perang Rusia–Ukraina dan Sikap Vladimir Putin

Perang Rusia–Ukraina dan Sikap Vladimir Putin

Perang Rusia di Ukraina hampir memasuki tahun keempat dan akan segera berlangsung lebih lama daripada Perang Dunia II di Front Timur (1941–1945). Hal ini menjadi sorotan karena Presiden Rusia Vladimir Putin sangat menjadikan kemenangan Uni Soviet dalam Perang Dunia II sebagai simbol kebanggaan nasional Rusia.

Meski perang sudah lama berlangsung, Rusia belum meraih kemenangan penuh. Rusia hanya menguasai sekitar 20% wilayah Ukraina, korban jiwa diperkirakan sangat besar, dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky tetap berkuasa. Namun, Putin tetap yakin bahwa waktu berpihak pada Rusia dan kemenangan akan tercapai.

Putin bersikeras ingin menguasai wilayah Ukraina yang diklaim Rusia, seperti Donbas, dan menyatakan siap mencapainya dengan cara apa pun. Sikap keras ini juga digunakan sebagai strategi tawar-menawar dalam upaya diplomasi, terutama karena Presiden AS Donald Trump ingin segera mengakhiri perang.

Hubungan Barat dengan Ukraina mulai menunjukkan retakan, terutama setelah Trump kembali menjabat. Meskipun AS mencoba mendorong perdamaian melalui diplomasi, Rusia tetap menolak kesepakatan yang melanggar garis merahnya, yaitu:

  • Rusia tidak akan mengembalikan wilayah yang telah diklaim
  • Tidak boleh ada pasukan NATO di Ukraina setelah perang

Upaya perdamaian semakin rumit setelah Rusia menuduh Ukraina menyerang kediaman Putin dengan drone, tuduhan yang dibantah Ukraina. Rusia menggunakan isu ini untuk memperkeras posisi negosiasi.

Di dalam negeri, Putin tetap sangat kuat. Tidak ada oposisi politik yang berarti, kritik terhadap militer dibungkam, dan meskipun ekonomi Rusia melambat serta korban perang terus bertambah, tidak ada tekanan besar yang memaksa Putin menghentikan perang.

Kesimpulannya, meskipun perang belum dimenangkan dan biaya kemanusiaannya sangat besar, Putin masih memiliki kendali penuh dan mampu melanjutkan perang sambil menekan pihak Barat dalam negosiasi perdamaian.

Similar Posts