Dampak Penangkapan Maduro bagi Tiongkok dan Isu Taiwan
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan khusus AS menjadi kejutan besar bagi Tiongkok, yang selama puluhan tahun menjadikan Venezuela sebagai salah satu mitra strategis terpentingnya di Amerika Latin.
Hubungan Tiongkok–Venezuela
- Tiongkok dan Venezuela memiliki hubungan ideologis dan ekonomi yang erat, terutama dalam sektor minyak.
- Hingga 2025, sekitar 80% ekspor minyak Venezuela mengalir ke Tiongkok.
- Sejak 2007, Tiongkok telah meminjamkan lebih dari USD 62 miliar kepada Venezuela, menjadikannya penerima pinjaman Tiongkok terbesar di dunia.
- Penangkapan Maduro mengancam akses istimewa Tiongkok terhadap minyak dan pengaruhnya di kawasan.
Reaksi Tiongkok
- Beijing mengecam keras tindakan AS, menyebutnya sebagai “tindakan hegemonik” dan pelanggaran hukum internasional.
- Media pemerintah Tiongkok menuduh AS munafik dalam mengklaim “tatanan internasional berbasis aturan”.
- Namun, sikap Tiongkok dinilai tidak konsisten, karena tidak mengecam Rusia saat menginvasi Ukraina.
Dampak ke Isu Taiwan
- Di media sosial Tiongkok, penangkapan Maduro memicu nasionalisme dan spekulasi bahwa Tiongkok bisa melakukan hal serupa terhadap Taiwan.
- Namun secara resmi, Beijing tidak mengaitkan langsung kasus Venezuela dengan Taiwan.
- Pejabat Taiwan dan para analis menegaskan bahwa Taiwan bukan Venezuela, dan invasi militer Tiongkok tetap berisiko besar.
Penilaian Para Ahli
- Langkah AS tidak langsung mengubah perhitungan Tiongkok soal Taiwan, tetapi menciptakan “normalitas baru” penggunaan kekuatan militer.
- Bagi Taiwan, peristiwa ini menjadi peringatan penting untuk memperkuat pertahanan dan daya tangkal.
- Di Amerika Latin, Tiongkok kemungkinan akan memprioritaskan perlindungan kepentingan ekonominya daripada konfrontasi geopolitik terbuka dengan AS.
Kesimpulan
Penangkapan Maduro merupakan kemunduran strategis besar bagi Tiongkok, tetapi tidak serta-merta mengubah peta geopolitik global. Dampaknya lebih terasa pada pengaruh ekonomi Tiongkok di Amerika Latin dan sebagai sinyal keras tentang meningkatnya penggunaan kekuatan militer dalam politik internasional.
