Guardiola Hadapi Manajer United Keenam, Derbi Manchester Kembali Uji Stabilitas City dan Krisis Setan Merah
Pep Guardiola kembali melangkah ke Old Trafford dengan posisi yang jauh berbeda dari rivalnya. Pada derbi Manchester ke-198, Sabtu nanti, pelatih Manchester City itu akan berhadapan dengan manajer Manchester United keenam sepanjang hampir satu dekade kepemimpinannya di Etihad Stadium.
Michael Carrick menjadi sosok terbaru yang mengisi kursi panas United. Laga ini akan menjadi pertandingan perdananya sebagai pelatih kepala sementara setelah klub memecat Ruben Amorim. Di tengah kekacauan yang terus menyelimuti Setan Merah, City justru datang dengan ketenangan dan konsistensi.
Guardiola dan timnya membidik kemenangan ganda liga demi menjaga asa juara Liga Inggris, sementara Carrick berharap derbi kandang dapat memberi secercah kebanggaan dalam musim United yang berjalan jauh dari kata ideal.
Musim lalu menjadi pengecualian langka bagi City setelah gagal meraih trofi utama. Namun musim ini, Guardiola kembali menemukan ritme timnya. City tak terkalahkan dalam 13 laga terakhir dan masih bersaing di empat kompetisi. Sang pelatih pun memuji “semangat” tim yang kembali hidup.
“Semua tentang hasil. Kalau tidak menang, Anda akan dipecat,” kata Guardiola. “Kami memenangkan banyak gelar, itulah alasan saya masih di sini. Di klub ini ada kesabaran, dan itu mendefinisikan City.”
Sejak Guardiola bergabung pada Juli 2016, United silih berganti berganti pelatih—mulai dari Jose Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, Ralf Rangnick, Erik ten Hag, hingga Ruben Amorim. Semua mengalami masa sulit saat menghadapi dominasi City di bawah Guardiola. Carrick kini kembali dipercaya, membawa harapan nostalgia untuk menyelamatkan musim yang hampir dipastikan berakhir tanpa trofi.
United tersingkir lebih awal di dua kompetisi domestik dan tertinggal 17 poin dari pemuncak klasemen Liga Inggris, Arsenal. Finis di lima besar demi tiket Liga Champions pun kini dianggap sebagai target realistis.
Sebaliknya, City tampil sebagai mesin yang terus berjalan. Dengan penguasaan bola rata-rata 58,6 persen—tertinggi kedua di liga—dan status sebagai tim paling produktif dengan 45 gol musim ini, pasukan Guardiola datang ke Old Trafford sebagai favorit. Pekan lalu, mereka bahkan mencetak 10 gol ke gawang Exeter City di Piala FA.
Pertahanan United menjadi sorotan. Tim yang kini diwarisi Carrick hanya mencatat dua clean sheet dari 21 pertandingan liga. Mencatatkan nirbobol ketiga akan menjadi pencapaian tersendiri bagi pelatih anyar tersebut.
Dominasi dan Daya Beli
Guardiola tak hanya dikenang sebagai manajer tersukses City, tetapi juga salah satu pelatih terhebat sepanjang masa berkat prestasinya bersama Barcelona dan Bayern Munich. Dukungan manajemen City—termasuk kerja sama eratnya dengan mantan direktur olahraga Txiki Begiristain dan penerusnya Hugo Viana—membuat stabilitas klub terus terjaga.
Rekrutmen penyerang Antoine Semenyo senilai £62,5 juta membuat total belanja Guardiola di City menembus £2 miliar. Sejak 2016, pengeluaran bersih City mencapai sekitar £957 juta, tertinggi ketiga di Inggris. Namun, belanja besar itu sebanding dengan hasil: 18 trofi, termasuk enam gelar Liga Inggris dan Liga Champions 2023.
Secara keseluruhan, Guardiola tercatat sebagai manajer dengan total belanja pemain terbesar dalam sejarah sepak bola, mencapai £2,24 miliar sepanjang kariernya.
Di atas lapangan, dominasi City atas United pun jelas terlihat. Guardiola telah menghadapi Setan Merah 26 kali di semua kompetisi, meraih 14 kemenangan. United belum pernah finis di atas City di liga selama era Guardiola, meski sempat membalas kekalahan final Piala FA 2023 dengan kemenangan mengejutkan setahun kemudian.
“Begitulah adanya,” ujar Guardiola tentang rivalitas tersebut. “Saya tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi di United. Saya tidak berada di sana.”
Meski demikian, statistik menunjukkan United kerap menjadi lawan yang relatif menyulitkan Guardiola dibanding tim-tim besar lain. Rasio poin per pertandingannya melawan United adalah 1,74—lebih buruk hanya saat menghadapi Tottenham dan Liverpool.
Kekalahan di Old Trafford tentu bisa mengganggu ambisi gelar City, tetapi kecil kemungkinan hal itu memicu kepanikan di Etihad. Bagi United, derbi ini lebih dari sekadar tiga poin—ini adalah ujian awal apakah babak baru di bawah Carrick dapat memutus siklus kekacauan yang terus berulang di Old Trafford.
